Ke Malaysia dan Singapura; Bermodalkan Mimpi

By | September 16, 2016

Siapa yang pernah menyangka, pengalaman ini merupakan salah satu episode perjalanan mencari jati diri saya untuk menjadi manusia yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Kisah ini bermula dari ketidaksengajaan saya melihat foto salah satu guru besar favorit di pesantren di Al-Amien Prenduan Madura, alm. KH. Tijani Djauhari, MA. di kalender tahunan pondok yang sedang melakukan kunjungan ke salah satu universitas terbaik di Malaysia. Sejak itu pula, di hatiku terpatri sebuah ‘mimpi’ untuk bisa juga pergi berkunjung ke universitas tersebut.

Penulis selalu ingat pesan dari para guru di sekolah;

jika punya keinginan besar atas sesuatu, maka yakinilah di dalam hati akan bisa terwujud pada suatu hari. Tentunya dibarengi dengan doa-doa memohon petunjuk dan rezeki kepada Allah SWT. Insya Allah, Allah akan memberikan rezeki dan kesempatan kepada kamu.

Persisnya waktu itu tahun 2008, saat itu saya masih duduk di kelas 5 TMI (setara 2 SMA) di asrama As-Sholehah yang merupakan rayon khusus santri ‘kibar’ (calon pengurus organtri ISMI). Saat menjelang liburan awal tahun, seluruh santri diberi kalender pondok oleh para wali kelas masing-masing.

Bayangan salah satu foto di kalender tersebut selalu menggelayuti pikiran dan hati saya, sembari berdo’a kepada Allah SWT agar ini bukanlah sekedar harapan, keinginan atau mimpi bunga tidur semata, tapi agar Allah benar-benar menjadikan mimpi tersebut menjadi hal yang kenyataan.

Kebetulan saat itu juga, saya sedang memiliki ‘mood’ bagus untuk aktif membuat karya tulis di buku ‘kasykul’ harian. Mimpi untuk bisa berkunjung ke Malaysia dan Singapura, sengaja saya tulis dan targetkan di buku ‘kasykul’ tersebut dengan tulisan yang cukup besar. Sambil meraba masa depan, saya coba tentukan tahun untuk bisa berkunjung ke Malaysia; yaitu 4 tahun ke depan, tepatnya di tahun 2012.

Hari demi hari, bulan berganti tahun hingga sampailah pada masa kelulusan berhasil menuntaskan program pendidikan di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Madura pada tahun 2009. Pasca kelulusan, pada tahun itu pula saya telah berniat untuk mengabdi di almamater.

Suatu hari, saat saya sedang merapihkan buku-buku dan kitab di lemari pribadi, saya melihat buku ‘kasykul’ yang di dalamnya dulu pernah saya tulis dan targetkan ‘mimpi’ bisa berkunjung ke Malaysia dan Singapura. Alhamdulillah, mimpi tersebut senantiasa bersemai di hati dan menemani perjalanan hidup saya, sehingga tak pernah pudar dan pupus. Setelah membuka kembali buku ‘kasykul’ tersebut, gairah untuk mewujudkan keinginan berkunjung ke Malaysia dan Singapura semakin membuncah dan meluap-luap.

Hingga tibalah waktu yang sangat bersejarah itu, hari di mana ucapan kata syukur semakin tak terhitung berapa banyak, hari ketika seorang anak pedesaan tanpa pengalaman berhasil menginjakan kakinya untuk pertama kali di negeri orang jauh dari sanak saudara, negara Malaysia. Persisnya kira-kira pada pukul 11.45 tanggal 12 Juni 2012 saya merasakan ‘euforia’ buah hasil dari keistiqomahan menjaga ‘mimpi’ hingga menjadi kenyataan. Tahun 2012 adalah target dari mimpi 4 tahun silam yang akhirnya menjadi kenyataan. Benar pepatah berkata “Barangsiapa menanam, maka ia akan memetik”. “Tidak ada kemanisan kecuali setelah melewati kesusahan.” “Barangsiapa bersabar beruntunglah ia.”

*Pernah dimuat di majalah Mimbar Edukasi Manba’ul ‘Ulum (MEMU), Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *