Santri The Explorer; Belajar, Teman dan Jalan-jalan

By | Maret 30, 2017

Sewaktu saya bertekad untuk masuk pesantren tahun 2003 yang lalu, memang hati saya agak takut dan was-was. Karena pasti akan ada banyak cobaan dan ujian yang menghadang di depan nanti. Apakah saya nanti akan betah di pesantren? Apakah saya akan kuat menjalankan semua disiplin yang begitu ketat? Apakah saya akan selalu menangis kangen sama orang tua dan keluarga di rumah? Ataukah saya akan terjatuh di tengah perjalanan nanti?. Semua perasaan takut dan was-was tersebut selalu menghantui pikiran saya.

Sampai tiba saatnya momen paling bahagia buat saya. Momen yang mengalahkan perasaan takut dan was-was saya, yaitu ketika saya resmi menjadi siswa yang belajar di pesantren alias saya akan menjadi “santri”.  Eitss.. Tapi masih ada satu prosesi lagi yang harus saya bersama orang tua lakukan, yaitu  orang tua saya harus menyerahkan saya ke pengasuh pesantren selama masa pendidikan nanti. Saya dan orang tua harus percaya seyakin-yakinnya kepada pengasuh pesantren secara ikhlas dan tulus, insya Allah melalui asas kepercayaan dan keikhlasan ini saya akan mendapat ilmu yang berkah dan manfaat bagi saya pribadi dan orang lain.

Julukan “santri” entah mengapa saya sangat suka dengannya. Sejak saya masih sekolah SD/MI, saya sudah ingin sekali dijuluki sebagai “santri”. Saya begitu terinspirasi menjadi seorang “santri”.  Kok bisa? Ya, bisa. Dalam pikiran saya berteori, “kalau saya menjadi santri maka saya akan banyak belajar ilmu-ilmu baru dan akan punya banyak teman. Kalau sudah banyak teman, setiap liburan nanti saya bisa main ke rumahnya. Dengan main ke rumahnya, saya akan bisa jalan-jalan juga pastinya.”

Tentunya, dari teori yang saya buat diatas ada maksud yang tersirat. Secara tersurat saya mengartikannya sebagai “ajang silaturrahim”. Mengapa kok diartikan sebagai ajang silaturrahim? Karena saya yakin dengan adanya ajang silaturrahim ini, akan banyak mendatangkan manfaat dan keberkahan hidup. Dengan silaturrahim juga akan melapangkan rizki dan memanjangkan umur. Rasulullah dalam sabdanya mengatakan, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.” (HR. Bukhari). Dalam sabdanya yang lain diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi”.(Muttafaqun ‘alaihi)

Ajang silaturrahim dalam masa-masa belajar di pesantren tercipta dan selalu terjadi setiap waktu. Setiap hari. Sepanjang masa-masa aktif pendidikan dan pembelajaran di pesantren berlangsung. Dari pagi sampai malam. Saya, teman-teman semua santri, ustadz/guru dan pengasuh semuanya berbaur menjadi satu. Satu harmonisasi, satu warna, satu visi-misi, satu hati dan satu jiwa untuk komitmen menjelajahi luasnya samudera ilmu, menelusuri sungai yang tidak bermuara. Semakin jauh ditelusuri sungai itu, semakin dalam dan terus semakin dalam tanpa ada batas. Ya, kita adalah the explorer, sang penjelajah ilmu.

Dengan menjadi “santri” saya juga sangat  beruntung. Sungguh beruntung sekali saya bisa menjadi “santri”. Saya punya banyak teman.  Setiap hari saya selalu berada dalam nuansa kebersamaan, nuansa kekeluargaan, nuansa dalam tali silaturrahim yang begitu erat dan kokoh. Kebaikan-kebaikan pun berdatangan. Keberkahan pun selalu datang melengkapi.

No day without silaturrahim! walau saya dan teman-teman santri bukan berasal dari satu tempat, satu daerah, satu provinsi, satu negara atau bahkan berbeda negara. Silaturrahim harus selalu ditegakkan, kapanpun, dimanapun dan sama siapa saja. Sebab Manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendirian. Ya, kita adalah the explorer, sang penjelajah penyambung tali silaturrahim.

Apabila musim liburan tiba, saya biasanya memanfaatkannya untuk berkunjung ke rumah teman-teman. Bukan berkunjung sembarang berkunjung saja. Tapi, berkunjung disini adalah sarana untuk menyambung tali silaturrahim ke orang tua dari teman-teman santri semua. Prinsip dari kunjungan yang saya lakukan setidaknya harus membuat bahagia orang yang dikunjungi. Sesuai sabda Rasulullah Saw. “Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia.”

Disela-sela kunjungan silaturrahim yang saya lakukan, mostly, saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Jalan-jalan yang sarat hikmah dan pendidikan. Jalan-jalan yang bisa memperkaya khazanah pengalaman saya. Jalan-jalan yang bisa memompa semangat saya untuk menjadi manusia yang selalu  baik setiap harinya. Jalan-jalan yang bisa menjaga spirit dari hikmah yang disampaikan. Bahkan kalau perlu ditingkatkan kualitas spiritnya agar tidak pudar dan padam. Ya, kita adalah the explorer, sang penjelajah dunia.

Kepada para pembaca tulisan ini, mungkin kalau ada kalimat yang kurang sesuai, sebelumnya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini bukanlah curhat penulis kepada para pembaca. Tapi, seperti judul yang tertera diatas “Santri The Explorer #1; belajar, teman dan jalan-jalan”. Tulisan ini murni merupakan pengalaman pribadi penulis. Tulisan Santri The Explorer akan terbagi menjadi beberapa part rencananya. Isinya bertemakan pengalaman-pengalaman penulis selama menjadi santri. Menjadi santri adalah hak milik untuk selamanya. Tidak ada istilah mantan santri. Santri tetaplah santri yang harus terus hidup nilai-nilai kesantrianya, sepanjang hidupnya, bahkan sampai ajal menjemput.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *