Yuk, Menulis!

By | April 2, 2017

Konon, pada suatu hari Badiuzzaman Said Nursi berkata kepada Ahmed Husrau yang kemudian digelari Altinbasak “Misalkan, air laut dijadikan tinta, dan daun-daun di seluruh jagat ini dijadikan kertasnya, masih belum cukup untuk menuliskan ilmu Allah, Ki Sanak”. Ujarnya. “Tidak sebanyak itu yang saya mau tuntut. Saya cuma perlu satu titik. Di titik Ba itu, Kanjeng”. Balas Ahmed Husrau dengan tenang.

Penggalan percakapan Badiuzzaman dan Ahmed Husrau di atas bila kita renungi dengan khusyuk, akan menyadarkan kita bahwa ilmu yang diberikan Allah kepada manusia sangat terbatas. Sehebat apa pun dan secanggih apa pun alat-alat yang diciptakan manusia niscaya belum mencapai ketinggian ilmu Allah, seperti yang difirmankan-Nya “Tidaklah aku berikan ilmu kepada kalian kecuali hanya sedikit” (QS. Al-Israa: 85).

Sedikit mengulas tentang tradisi menulis dalam Islam, dalam sejarah tercatat bahwa kejayaan Islam pernah teraih melalui budaya baca-tulis. Bahkan Muhammad, Nabi akhir zaman, mendapatkan wahyu pertama yang berbias perintah untuk membaca (iqra’) dan menulis (‘allama bi al-qalam).

Membaca dan menulis adalah media untuk mengantarkan manusia menuju perbaikan. Maka, tidak berlebihan jika Qotâdah, seorang ulama salaf menyatakan: Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah…” (Tafsîr al-Qurthûbî, 2002).

Jika semangat mengajak membaca dan menulis sudah ada sejak awal datangnya Islam, dan mempunyai posisi yang sangat prinsipil dalam perkembangan Islam, maka seyogyanya kebudayaan baca-tulis di lingkungan kita bisa dijadikan tradisi bersama. So, yuk menulis!

2 thoughts on “Yuk, Menulis!

    1. ben ishlah Post author

      wah, itu mah hasil modifikasi dr beberapa sumber dan ditambahkan sedikit. maklum masih belajar.. mohon dukungannya suhu.

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *