Napak Tilas ke Pulau Anak Krakatau #1

By | April 5, 2017

Berawal dari sebuah pamflet promosi yang saya dapatkan lewat sebuah grup messenger.  Saat itu bulan Februari kalau saya tidak lupa. Isi pamflet itu menawarkan sebuah trip perjalanan ke anak Krakatau dan beberapa gugusan pulau yang ada di sekitarnya.  Tanpa ditanya lagi, saat itu juga hati saya langsung tertarik untuk ikut serta. Apalagi harga yang ditawarkan sangat low-budget dan sangat pas untuk keadaan kantong saya yang lebih suka melakukan taveling murah-meriah (makasih buat tim TransVision).

Rabu pagi tanggal 16 Maret 2017, selepas saya  membersihkan dan merapihkan kamar, saya iseng nyalakan Handphone dan lihat-lihat galeri foto yang tersimpan di dalamnya. Kemudian, saya temukan dan lihat pamflet trip ke Krakatau ternyata belum expired.  Yes..! Alhamdulillah ya Allah… ucapku. Masih ada kesempatan untuk ikut trip ke Krakatau -yang sebenarnya- niat tersebut hampir pupus karena saya pun hampir melupakannya  disebabkan banyaknya kesibukan.

Lantas, saya pun langsung kirim pesan ke kontak person yang ada (bang yos). Saya kirim pesan dan bertanya apakah masih ada kuota kosong?.  Setelah menunggu beberapa jam, bang yos membalas kalau masih ada kuota kosong dan saya bisa untuk ikut bergabung. Alhamdulillah… Kemudian saya pun dimasukan ke grup messenger untuk mendapatkan info-info terbaru perihal trip ini.

Sambil menunggu waktu berangkat ngetrip ke Krakatau, saya menyiapkan segala sesuatunya sebagaimana list dan rundown kegiatan yang diberitahukan lewat grup messenger.

Tiba-tiba pada hari Ahad, 19 Maret 2017 salah seorang sahabat saya yang sama-sama satu perjuangan dulu belajar di Pesantren, namanya Sigit asal Lampung. Mengirim pesan kalau dia akan pergi ke Jakarta untuk mengikuti seleksi bekerja di Net.TV. Ia bermaksud ingin mengunjungi saya sekaligus numpang bermalam. Tentunya tanpa berpikir lama saya dengan senang hati langsung menerimanya sambil bersyukur dan berucap di dalam hati, “alhamdulillah… sudah hampir tujuh tahun tidak bertemu sapa, dan sebentar lagi akan bernostalgia bersama lagi”.

Kemudian pada Selasa pagi ia datang. Ia berencana bermalam di tempatku sampai hari Jum’atnya. Saya tawarkan ke dia apakah mau ikut ngetrip ke Krakatau?. Sambil mengiming-iminginya dengan budget yang sangat murah. Apalagi ia juga belum pernah tahu Krakatau langsung walau dekat dengan tempat tinggalnya. Antara ya atau tidak, ia menjawab ragu kalau mau ikut ngetrip bersama. Saya pun komunikasikan lagi dengan bang yos perihal kemungkinan tambah peserta. Tidak pakai lama bang yos balas dan booked.

Akhirnya datang juga hari Jum’at itu. Saya sudah gak sabaran dan sangat penasaran untuk segera berangkat ngetrip ke Krakatau. Bagaimana rupa anak gunung Krakatau itu ya? Sebuah warisan gunung purba yang pernah meletus pada tahun 1883 dan hanya menyisakan 2/3-nya saja dari 3 gunung besar. Letusannya lebih hebat dan 3o kali lebih besar dari bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Ia juga menciptakan gempa bumi dan gelombang Tsunami setinggi 40 meter yang telah menewaskan lebih kurang 36.000 nyawa.

Kemudian pada tahun 1927 lahirlah sebuah anak gunung baru dan membentuk sebuah pulau dari sisa-sisa kaldera tempat erupsinya, yang sekarang disebut anak krakatau. Saya juga dapat info dari media, kalau di kawasan cagar alamnya ada banyak hidup biawak. Wah, jadi makin penasaran dan banyak berkhayal nih, siapa tahu bisa nemu biawak yang besar seperti komodo, hehe.

Dari Kampung Rambutan ke Merak

Perjalanan saya mulai dengan naik bis dari Terminal Kampung Rambutan arah tujuan ke Pelabuhan Merak setelah shalat Isya’. Oh ya, sebelumnya saya sudah membuat janji di grup dengan teman-teman lain kalau akan ketemuan di terminal dan berangkat secara bersamaan. Setelah menunggu beberapa jam, bis pun berangkat dari terminal dan melaju cepat menuju Pelabuhan Merak.

Kami pun tiba di Terminal Pelabuhan Merak kurang lebih pada jam 12 malam. Lumayan juga naik bis tadi membuat capek karena pengaturan kursinya yang terlalu sempit dan tidak memberikan ruang cukup untuk tempat kaki. Dari terminal saya bersama teman-teman langsung menuju Pelabuhan Merak dengan berjalan kaki, karena memang jaraknya sangat dekat, sekitar 500 meter-an saja jarak Pelabuhan dari terminal bis. Setelah sampai depan pintu masuk pelabuhan, saya dengan yang lain beristirahat sambil menunggu beberapa teman yang belum datang termasuk bang yos selaku ketua rombongan.

Jam 03.00 dini hari, saya bersama rombongan naik kapal fery untuk menyebrangi Selat Sunda kemudian berlabuh di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Alhamdulillah, kapal fery yang kita naiki sangat bersih, nyaman dan ada ruang dek khusus untuk selonjoran, lesehan dan tidur. Gak pakai lama, peserta rombongan bergegas dan berpencar menuju tempat sesuai selera masing-masing; ada yang di ruang lesehan, ada yang ke ruang santai sambil duduk di atas kursi yang empuk ber-AC dingin dan ada juga yang memilih dek terbuka paling atas. Tidak ada pemandangan yang istimewa selain pijaran siluet lampu-lampu penerang malam di sekitaran pelabuhan Merak.

Berlabuh ke Pelabuhan Bakauheni

Selama 3 jam waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke Pelabuhan Bakauheni. Kira-kira pukul 06.00 pagi, kapal fery yang kita naikin pun berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Alhamdulillah ya Allah… akhirnya berhasil juga menginjakan kaki saya di atas tanah pulau Sumatera ini. Sobat semua, ini adalah pengalaman dan kunjungan pertama saya di pulau Sumatera. Sudah dari beberapa tahun yang lalu saya ingin pergi ke Sumatera, dan baru terwujud berkat ikut ngetrip ke Krakatau. Alhamdulillah, memang indah ya kalo datang pada waktunya.

Setelah turun dari kapal fery, kami beristirahat sejenak di dekat musholla untuk shalat; karena ada beberapa peserta yang tidak sempat menunaikan shalat shubuh di kapal, beruntung saya sudah menyempatkan diri untuk shalat shubuh di kapal tadi. Setelah dirasa semua sudah OK, kami harus segera menuju ke Dermaga Canti, Kalianda untuk naik perahu dan menuju ke pulau anak Krakatau. Untuk menuju ke Dermaga Canti dari pelabuhan Bakauheni ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan jasanya. Mulai dari yang paling murah meriah seperti naik angkot atau yang lebih mahal dengan travel (Kalau ada sobat datang kesini, silahkan pilih mana moda transortasi yang paling nyaman digunakan dan nyaman di kantong juga).

Di Dermaga Canti

Setelah sampai ke Dermaga Canti, aktivitas kami bersiap-siap diri dan sarapan pagi karena akan naik perahu menuju ke beberapa spot pulau. Tidak lupa memakai sunblock untuk mengurangi efek paparan sinar matahari yang bisa membakar kulit. Sekedar saran, kalau tiba di Dermaga Canti dan perut sudah lapar, jangan lupa pilih warung yang persis di depan dermaga bukan samping dermaga yang menjorok ke laut. Ada menu nasi uduk yang enak dan harganya sangat murah. Harus dicoba deh sobat!

Menuju Pulau Sebuku Kecil, Sebuku Besar, Pulau Sebesi dan Pulau Umang-umang

Mesin pendorong perahu sudah dinyalakan, mengeluarkan suara yang sangat berisik di ruang dek dalam perahu. Posisi kami juga sudah siap sedia mengarungi selat sunda yang berwarna kebiruan, semakin perahu menjauhi dermaga, maka warna kebiruan semakin pekat. Sebagaimana yang pernah diajarkan di sekolah, itu berarti menandakan garis pemisah antara laut dangkal dan laut dalam.

Kurang lebih membutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke Pulau Sebuku Kecil dari Dermaga Canti. Di Pulau Sebuku kecil ini, kegiatan kami hanya untuk foto-foto bernuansakan hamparan pasir putih, gugusan pulau dan air laut yang tampak jernih kehijauan, spot yang sangat bagus untuk sesi foto bersama sang kekasih hati.

Dari pulau Sebuku Kecil dilanjutkan menuju ke Pulau Sebuku Besar yang jaraknya berdekatan dan hanya membutuhkan 10 menit untuk bisa sampai dengan perahu. Di pulau Sebuku Besar ini merupakan spot yang cukup bagus untuk yang suka snorkeling dan menikmati suguhan pemandangan terumbu karang dengan gerombolan ikannya yang berlarian.

Karena masih belum puas menikmati aktivitas snorkeling di pulau Sebuku Besar ini, kami memburu spot snorkeling yang lain, yaitu di Pantai Cemara, Pulau Sebesi. Butuh 25 menitan untuk bisa sampai ke pantai ini dari pulau Sebuku Besar.  Setelah sampai, kami langsung berloncatan ke laut karena sudah gak sabar lagi ingin segera menikmati suguhan pamandagan bawah airnya yang katanya lebih bagus. Ternyata benar sobat, di Pantai Cemara ini spot snorkelingnya lebih bagus dari spot di Pulau Sebuku Besar tadi. Alhamdullah… cukup puas.

Menuju Homestay di Pulau Sebesi

Karena letaknya sama-sama di pulau Sebesi, hanya butuh beberapa menit saja untuk memutar dari Pantai Cemara spot snorkeling menuju ke Dermaga pulau Sebesi. Begitu tiba di dermaga, perahu segera di tautkan talinya dan jangkarnya diturunkan agar perahu aman saat menepi.

Kami semua menuju homestay untuk membersihkan diri, shalat, makan siang dan istirahat. Saya sendiri memanfaatkannya untuk tidur-tiduran dan minum air kelapa muda yang rasanya sangat segar. Aktivitas akan dilanjutkan pada sore harinya untuk memburu dan menikmati suguhan sunset di Pulau Umang-Umang.

Sunset di Pulau Umang-Umang yang memiliki Pasir Putih selembut Terigu 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *